Menyambung tulisan sebelumnya : catatan ayah (1) (2) (3)
Menginjak usia kehamilan 16 minggu, si kecil makin berkembang. Kemarin dan beberapa hari sebelumnya saya seringkali terlupa untuk mengajak bicara si kecil yang masih dalam kandungan. Biasanya sehabis sholat saya hanya memperdengarkan doa dan sholawat, istri yang paling banyak berperan.
Nah kemarin dan hari sebelumnya, istri merasa kesakitan yang cukup luar biasa karena efek “ketidaktenangan” si kecil. Gerakan si kecil memang belum begitu terasa di usia ini, tapi sakit itu memang diakibatkan karena perkembangan si kecil. Lalu istri meminta saya untuk mengajak bicara si kecil.
Saya pun segera mendekat dan mengusap2 bagian perut istri sambil mengajak bicara. Saya memang paling gak ahli kalau mengajak bicara yang objeknya tidak terlihat di depan saya. Jadi ya saya ngajak bicara apa aja yang sekiranya membuat istri dan si kecil ketawa. Seperti misalnya menceritakan percakapan saya dengan dokter ketika memeriksakan kondisi si kecil minggu lalu, atau meminta kepada si kecil agar ketika periksa ke dokter lagi tidak ngumpet. Tunjukin semua bagian tubuh dedek ya..
Nah ketika saya mengajak bicara itu ternyata rasa sakit istri mulai berkurang dan bener- bener hilang. Terutama kejadian tadi malam yang tidak bisa membuat istri tidur, setelah saya ajak bicara si kecil langsung tenang dan seperti tertidur. Akhirnya istri pun bisa mulai tidur dengan nyaman.
Hmm.. memang luar biasa Allah SWT menciptakan media komunikasi ini. Hanya lewat sentuhan dan kata – kata yang menenangkan dari luar perut sudah bisa dimengerti oleh si kecil. Maka pada usia kehamilan sedini ini ajaklah si kecil untuk berbicara, terus perdengarkan lantunan ayat-ayat Al Quran, terutama ibu dan ayahnya.. agar ketika lahir pun ayat-ayat Al Quran jadi suara yang paling biasa didengar dan tidak asing baginya.
Doa ayah dan bunda.. Jadi anak yang soleh dan sholehah ya nak, hafal Al Quran, manfaat di dunia dan akhirat..


