Di fakultas dimana saya kuliah, setiap mahasiswa diberikan kesempatan untuk menjadi asisten dosen. Begitu juga di jurusan saya. Syarat dan ketentuan menjadi asisten dosen secara umum adalah :
1. telah mengikuti mata kuliah yang bersangkutan.
2. nilai mata kuliah yang bersangkutan minimal AB.
3. lulus seleksi.
Saat itu saya baru naik tingkat 2 atau semester 3. Ada pikiran dalam hati, kalau harus memulai mendapatkan kerja sambilan supaya dapat uang untuk membeli buku dan hardware komputer. Maklum saat itu komputer saya cukup jelek, cuma “celeron 500“, jadi harus diupgrade sedikit – sedikit supaya kinerjanya bisa lebih optimal.
Melihat pengumuman adanya lowongan sebagai asisten dosen, saya jadi berpikir, eh kalau kerja sambilan di kampus kan enak, gak usah jauh – jauh. Tapi ada pikiran lain yang timbul, kan saya ini gak pinter amat, lemot sih iya..
apa mampu jadi asisten dosen. Akhirnya saya berunding dengan salah satu teman yang juga ingin kerja sambilan seperti saya. Setelah berunding panjang dan lebar serta melelahkan (weeeeezzzz!!!) akhirnya kami nekat ikut seleksi menjadi asisten dosen untuk beberapa mata kuliah, untungnya nilai kami cukup dan telah memenuhi persyaratan.
Tahap seleksi/tes berupa pembuatan aplikasi kecil untuk mengetahui kemampuan dasar programming telah saya ikuti dan dinyatakan lolos. Jadilah saya asisten dosen untuk semester ini pada beberapa mata kuliah. Tugas pertama adalah membantu tugas dosen saat praktikum sesuai mata kuliah yang saya pilih saat mendaftar. contohnya adalah “Praktikum Logika dan Pemrograman“, yang diotak-atik pada mata kuliah ini adalah dasar pemrograman Pascal dan C++. Ah, saya ini ndak begitu ahli dalam bahasa pemrograman ini, tapi apa mau dikata saya harus berusaha belajar lagi supaya bisa bantu adek-adek kelas yang saya bimbing.
Ternyata kenekatan saya untuk menjadi asisten ada hasilnya, kalau dulu ilmu dasar programming masih dikit, sekarang mendinganlah..
Kalau kadang ditanya adek-adek kelas ndak bisa, saya bilang aja belum ketemu caranya, rasanya memang agak malu, tapi itu malah jadi motivasi biar belajar lagi. Kasus-kasus yang diberikan dosen kadang lebih variatif ketimbang yang saya dapatkan saat kuliah, jadi pemikiran saya jadi lebih berkembang. Alhasil tidak cuma honor bulanan yang saya dapatkan namun juga ilmu yang mahal harganya bisa saya dapatkan.
Akhirnya dengan benefit yang saya dapatkan, saya tetap mendaftar dan menjadi asisten dosen hingga pertengahan tahun ketiga saya kuliah. Kemampuan saya pun bertambah pada analisis sistem, database, web programming, visual programming, sistem operasi, hardware dan troubleshooting tentunya.
Sehingga motto, “Ilmu akan bertambah bila diamalkan dan berkurang bila dipendam dibiarkan begitu saja” adalah benar dan bisa didapat dengan niat yang lurus untuk ikut mencerdaskan anak bangsa.. (weleh, kepanjangan mikirnya ya?!
)
Intinya, jangan takut jadi asisten deh, kalo ndak bisa, bilang aja ndak bisa, yang penting tetap mau belajar.
Tetap berdjoeang..

great job !
jadi asdos tuh sebenarnya mulai semester berapa?
persyaratannya tolong jelaskan lebih konkrit lagi!
trims
Mantap..
“Jadi Asisten Dosen? Kenapa takut…”
y lek awakmu dadi asdos mgkn g takut, tp dosen en mahasiswa’e yg takut di-asdos-i awakmu. wkwkwkk
lmayan nih…….
perlu dcoba, thx yow …… . . . .
Keren!!
Pengen jadi asdos nih jadinya